
Ideologi, Kemuliaan Dibalik Keburukan
October 2, 2010Saat itu sempat saya melihat perjalanan hidup atau biografi dari tokoh Uni Soviet yang ternama di salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Tokoh tersebut adalah Mikhail Gorbachev. Dari yang diceritakan tentang riwayat kehidupannya tersebut, saya banyak belajar, bagaimana dari hanya keluarga petani bisa merubah dunia dengan semangat dan perjuangannya. Bagaimana otak dia bekerja luar biasa hebat untuk memikirkan dan memperjuangkan masa depan. Sebuah kisah inspiratif dari orang hebat, namun jarang kita sebut. Bahkan namanya masih kalah dengan bintang-bintang hiburan yang muncul dilayar kaca.
Namun bukan itu yang saya ingin angkat kali ini dalam tulisan ini. Yang saya ingin angkat adalah sistem komunis yang dianut oleh Mikhail Gorbachev tersebut. Namun sebelumnya, saya ingin menanyakan, siapa diantara pembaca yang sudah menjustifikasi bahwa komunis buruk? Siapa diantara pembaca yang mendapatkan didikan pada pendidikan tingkat dasar atau lanjutan bahwa komunis merupakan kejahatan? Disini saya berbicara secara netral, saya bukan anggota komunis jadi saya tidak ada ikatan untuk meninggikan komunis. Saya juga tidak ingin menjelek-jelekan komunis, karena baik buruk sesuatu hanya masalah sudut pandang pada akhirnya. Kembali kepada pembicaraan, saya menyimak dengan seksama saat biografi tersebut ditayangkan. Saya mendapatkan sesuatu yang menarik dari kisah Mikhail Gorbachev kecil. Karena asas dari komunis ialah kepemilikan bersama dan gotong royong, terlepas dari asas komunis yang tidak percaya adanya tuhan karena menurut mereka tuhan hanya akan membatasi mimpi mereka, semua yang dimiliki seseorang dan dapat dibagikan kepada sesama mereka, mereka akan membagikannya, tidak ada egoisme, tidak ada kata pelit. Sangat menarik menerut saya. Gorbachev kecil adalah merupakan cucu dari pejabat pembagi makanan di desa setempat dimana Gorbachev kecil dibesarkan. Dia sering membawa makanan saat kesekolah, roti, mentega, atau apapun itu. Namun dia membawa makanan itu bukan untuk dirinya sendiri, dia membagikannya kepada teman-temannya. Sungguh mulia, mengingat dia hanya putra dari seorang teknisi pertanian yang hidup sangat sederhana.Coba pikirkan jika dia mengambil semua itu untuk dirinya sendiri, dia tidak akan kekurangan. Sungguh ironis bukan jika kita memikirkan lebih lanjut dan membandingkan dengan kehidupan kita saat ini. Saat moderen ini, dimana demokratis digembar-gemborkan, dimana ideologi Pancasila digunakan di Indonesia, jarang kita lihat adanya kebersamaan dan kepedulian seperti itu. Ideologi yang kita anggap sempurna, ideologi yang katanya cocok dengan kepribadian Indonesia yang ketimuran, malah tidak ada budaya saling berbagi. Atau hanya karena masyarakat modern sekarang ini yang melupakan betapa indahnya berbagi? Yang telah mentidakacuhkan kenikmatan berbagi karena telah terkotori budaya materialisme dan individualisme? Sungguh tidak dapat dimengerti, sesuatu yang ditanamkan kepada kita bahwa itu merupakan keburukan menyimpan kemuliaan begitu rupa. Namun sayang, mata kita sebenarnya seakan tertutup.
Ada lagi kisah dari Gorbachev yang membuat saya berpikir jauh tentang kebaikan sistem Uni Soviet. Seperti kita tahu, Gorbachev merupakan anak dari keluarga yang sangat sederhana. Dia saat remaja, setelah Perang Dunia berakhir, ia merantau ke Moskow dengan koper yang ditata oleh ibunya tercinta untuk melanjutkan pendidikan di Universitas terkemuka di Moskow. Disana ia masuk kedalam fakultas favorit, fakultas hukum. Sangat berarti baginya yang hanya sekedar anak desa, dapat melanjutkan perjalanan meraih mimpinya di Universitas terkemuka dengan fakultas favorit. Coba kita bayangkan dan bandingkan, Gorbachev yang hanya seorang anak teknisi pertanian, dengan segala keterbatasan, dapat melakukan itu semua. Sungguh sistem yang luar biasa dibandingkan keironisan saat ini. Di Indonesia ada kabar terdengar bahwa anak berprestasi, bahkan mempunyai nilai-nilai yang bagus, terpaksa tidak dapat melanjutkan mimpinya karena terbentur biaya. Anak berprestasi dengan latar belakang keluarga menengah kebawah yang untuk makan saja sulit, dipersulitkan lagi untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar mimpinya. Seolah-olah dengan tega, api semangat dan cahaya mimpinya dipaksa untuk redup atau bahkan padam. Bagaimana bangsa ini dapat maju jika untuk sekedar melanjutkan pendidikan saja sulit. Padahal siapa tahu dimasa depan ia akan mengangkat derajat bangsa ini dimata dunia. Menjadikan sang macan Asia kembali mengaum atas prestasi yang ia berikan. Sistem yang ada sekarang ini, di Pancasila pada sila kelima disebutkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ditulis seakan-akan dibisukan. Dimana realisasi ideologi yang kita anut? Seakan, ideologi hanya merupakan idealisme yang luntur oleh waktu. Seakan keadilan yang kita anut hanya berlaku untuk kaum congkak yang duduk menindih kita. Seakan semua yang mereka lakukan adalah halal walaupun mereka menginjak dan membuat penderitaan orang-orang menderita bertambah. Dan yang tidak jauh dari itu semua, apakah bangku kuliah dimana idealiame kita dibangun, dimana kita ditunggu oleh jutaan orang di Indonesia merubah negri ini, dimana kita masih dapat merencanakan, dimana kita masih dapat berpikir kritis hanya untuk kalangan berduit saja? Apa yang akan dilakukan kaum merana yang bahkan secara statistik sangat besar? Apakah mereka hanya akan dibiarkan menunggu dengan tangan dibawah dagu kapan nasib mereka akan berubah? Akan disalurkan kemana potensi mereka yang luar biasa itu? Ayo kita mengaca, mengaca pada realita, sesuatu yang ditanamkan buruk untuk kita, dicap kejahatan, malah memberikan kemuliaan dan keadilan. Kita lihat bagaimana sistem yang kita anggap ideal malah memberi kesempatan pada siapapun untuk hidup merubah nasib. Tidak hanya nasib orang-orang berduit dan berkuasa, namun juga kaum sederhana.
Ayo lah kawan semua, sungguh mata kita harusnya terbuka. Sungguh pikiran kita harusnya tergelitik. Sungguh jiwa kita harusnya meratap. Begitu banyak kebaikan dari sesuatu yang kita anggap keburukan. Tidak usahlah kita membahas dan melihat terlalu dalam keburukan orang lain, lihatlah bahwa kita juga masih mempunyai begitu keburukan.
Semoga apa yang saya tulis dapat bermanfaat. Karena pandangan saya hanya terbatas.
“Man beginning to explore the galaxy. But how much remains undown on earth?” -Mikhail Gorbachev
Like this:
Posted in Menuju Kesempurnaan, Pelajaran Hidup, Sekedar Coretan |