
Keluh, Harapan, dan Syukur
September 22, 2010Mungkin ini yang dirasakan oleh saudara-saudara kita. Pernah terbayang kah dipikiran kita selama ini, bagaimana jika saatnya nanti, roda kehidupan kita berputar dan kita mau tidak mau harus berada di sisi yang terbawah. Dimana kita merasa diri kita terinjak-injak oleh harga diri dan ego kita sendiri. Bahkan saat senyum kita hanya simbol yang tersungging diwajah kita dengan segala kemirisan dan kepedihan yang kita rasakan. Saat setiap tetes peluh yang kita keluarkan hanya sebagai wujud setiap peratapan kita. Dengan setiap pikiran dalam otak kita berisi ketidak percayaan atau ratapan. Semua tegangan otot kita hanya gerak tidak berdaya. Itu adalah saat waktu menang, dan kita pecundang.
Saudara kita juga ada yang masih tidak seberuntung kita. Saudara kita juga masih dapat tersenyum ceria dengan segala keterbatasan. Dan mereka telah menjalani itu lebih lama dari yang bisa kita bayangkan. Apakah keluhan mereka lebih keras dari keluhan kita? Tidak. Apakah sang waktu juga yang berkuasa dan membuat mereka terbiasa? Tidak. Tapi, hanya dengan kepercayaan dalam mimpi mereka lah yang membuat mereka masih bersyukur. Hanya dengan pasrah dan ingat kuasa Tuhan lah mereka masih bisa hidup dengan kesederhanaan. Hanya dengan kerja keras lah kebahagiaan terlunaskan.
Namun kita harus malu saat kita mengeluh. Kita harus tertunduk saat kita mengumpat segala ujian yang diberikan sang maha kuasa. Kita harus menoleh kebelakang dan bersyukur kita masih diberikan waktu untuk melihat kesalahan kita. Kita harus tegak untuk menghadapi semua dengan percaya akan menjadi lebih baik.
Saya baru saja membaca sebuah kalimat yang membuat saya tersendak sekaligus malu dan sedih. Kalimat tersebut sangat sederhana, namun makna sangat dalam saat saya membacanya, bahkan saat saya membacanya sekilas saja. Kalimat tersebut berbunyi :
“… mengucapkan rasa terima kasih sendiri merupakan suatu rahmat yang diberikan kepada hamba Allah yang untuk itu ia pun wajib berterima kasih…”
Sebuah kalimat indah yang sada dapatkan dari sebuah buletin dari lembaga dakwah fakultas di kampus saya. Kalimat yang membuat saya berpikir dalam dan jauh lebih dalam dengan segala permasalahan yang sedang saya hadapi sekarang ini. Sesuatu oasis yang membuat saya terbangun dalam lamunan perjalanan ini. Betapa kita hanya sesosok makhluk lemah tiada daya yang bahkan rasa syukur merupakan suatu yang tidak mampu untuk kita berikan. Terima kasih yang dapat kita berikan sesungguhnya adalah pemberian dari Dzat yang maha memiliki. Kita bahkan seharusnya berterima kasih kepada-Nya karena kita masih dapat diberikan itu.
Sungguh saya adalah orang yang buta selama ini. Buta akan keadaan, buta karena kesombongan, dan buta karena merasa saya telah melihat. Jika berkaca dari kalimat yang saya kutipkan diatas, bahkan seharusnya saya sadar bahwa masalah yang sedang saya menghadang, segala kesulitan dan tantangan adalah sesuatu rahmat dari Allah swt yang wajib kita syukuri karena Allah swt masih sudi memperhatikan saya dan memberikan saya cobaan. Bahwa seharusnya dengan rasa syukur yang tiada habisnya merupakan jalan keluar dari segala permasalahan yang ada.
Dan yang terakhir, saya ingin minta maaf atas segala kesalahan saya selama ini. Mudah-mudahan dengan momen Idul Fitri yang sudah lewat kemarin, kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih baik.
Like this:
Posted in Menuju Kesempurnaan, Mozaik Hati, Pelajaran Hidup, Sekedar Coretan |