h1

Hubungan Sudut Pandang

December 21, 2010

Buka arsip lama, nemu tulisan yang dulu. Sudah lama juga tidak posting, daripada tidak posting sama sekali, jadi lebih baik posting ini.

Apa yang ada dipikiran Anda jika ada kata Ta’aruf melalui benak Anda? Apakah ta’aruf merupakan proses perkenalan dengan pasangan sehingga lebih siap menerima dia apa adanya? Atau ta’aruf merupakan pelengkap ibadah? Atau hanya sekedar kedok maupun alasan untuk berzina?

Kata teman saya yang sering mengkritisi tentang penggunaan kata yang tidak seharusnya pada tempatnya, dia mengatakan bahwa kata ta’aruf sekarang hanya menjadi kedok untuk berzina. Secara logis pikiran saya, saya sependapat. Saya menyetujui dengan alasan yang dia sampaikan menggunakan pikiran dalam benak dan nurani saya.

Sebagai contoh, ada sinetron yang katanya berjudul Ta’aruf, namun isi yang ada tidak mencontohkan hal yang baik. Saya memang tidak melihat secara langsung, karena alibi ini dari teman saya itu. Jika dari saya, kenapa ta’aruf bisa menjadi salah kaprah dalam praktiknya ialah adanya unsur yang tidak pas. Ikatan dalam ta’aruf bukan ikatan resmi dan menghalalkan seperti ikatan akad nikah. Namun dalam praktik proses ta’aruf banyak diantara yang melakukan kontak fisik, misalnya berpegangan tangan yang sebenarnya belum menjadi muhrimnya. Itu merupakan contoh kecil.

Jika Anda keberatan dengan pendapat saya, saya bisa mengerti karena dunia selamanya diisi oleh perbedaan pendapat. Anda mungkin lebih condong memilih ta’aruf sebagai perkenalan, namun sejatinya perkenalan tersebut untuk jenjang akad nikah, jenjang lebih kuat, lebih sakral, lebih berguna, bukan untuk sekedar bermain-main dengan perkenalan itu sendiri. Dan pertanyaan saya berikan, “Siapkah Anda menikah, menuju jenjang kesakralan dalam waktu dekat karena Anda telah berta’aruf?” dan “Siapkah Anda, jika akhwat menerima lamaran pasangan Anda dalam waktu dekat, dan jika ikhwan melamar pasangan Anda dan segera menghalalkan hubungan tersebut?”. Jika pertanyaan tersebut Anda jawab dengan jawaban “IYA” maka bolehlah Anda menyebut hubungan Anda sebagai ta’aruf. Jika Anda menjawab “TIDAK atau BELUM” maka dengan tegas dapat dikatakan Anda mempermainkan kata ta’aruf sebagai kedok Anda dalam berzina.

Mungkin kata yang saya gunakan terlalu tajam, memang saya belum paham secara mendalam tentang detail-detail tertentu dalam keunikan agama saya, namun agama saya merupakan agama yang dapat dinalar, dapat dipikirkan dengan logis dan proses yang runtut. Tidak berisi keajaiban-keajaiban kosong yang entah darimana asalnya. Maaf jika saya menyinggung perasaan Anda saat membaca tulisan ini. Bukan bermaksud menyudutkan Anda, hanya mempertanyakan, mungkin dengan alasan yang akan Anda sampaikan, saya dapat melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Karena jujur, sebagai manusia, saya memiliki sudut pandang yang masih sempit. Saya ingin Anda mengisi dan melebarkan sudut pandang saya dengan alasan yang Anda sampaikan.

Kembali pada pembahasan, lebih baik secara jujur mengatakan hubungan tersebut merupakan pacaran atau yang lain, bukan dengan ta’aruf jika ternyata Anda belum siap melakukan hubungan lebih lanjut. Jujur toh tidak ada ruginya. Daripada berujung dengan pertanyaan yang akan membuat Anda merasa lebih tidak siap. Mengatasnamakan kebersihan kata ta’aruf demi kepentingan yang tidak logis akan berakibat buruk. Atau hanya untuk mengutamakan nafsu, na’udzubillah…

Cukup sekian mungkin tulisan ini terketik pada tuts keyboard saya. Jika ada pikiran lebih lanjut saya akan menambahkannya nanti. Terima kasih telah bersedia membaca tulisan ini. Mohon maaf jika ada salah, karena kesalahan murni dating dari diri saya, tidak saya sengaja buat, hanya kodrat manusia yang selalu salah, dan Allah swt lah yang maha benar dan maha mengampuni.

h1

“Dikerjai” Cinta

December 11, 2010

Akhirnya bisa nulis lagi. Setelah absen karena begitu banyaknya pekerjaan didunia nyata, maka dunia maya terbengkalai. Tapi lega karena bisa nulis lagi dan curhat lagi dengan tulisan ini karena beberapa waktu ini kegalauan sedang menyerang, jadi mungkin tulisan kali ini sedikit menggambarkan bagaimana perasaan saya saat ini.

Apa yang dikerjakan CINTA? Sebuah sesembahan baru sekarang ini. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan sekarang adalah teriakan-teriakan lantang, tamparan-tamparan keras bagaimana cinta itu disembah, diagung-agungkan, dan dipuja selayaknya dewa yang menguasai semua bidang. Bahkan para sastrawan yang paling andal hingga anak-anak semua membicarakan cinta seakan cinta adalah sesuatu yang paling murni.

Saya tidak habis pikir, mengapa kekuatan cinta begitu dahsyat. Mengapa dengan cinta kita dapat merasakan kekuatan dan kebahagiaan? Mengapa juga kita dapat merasakan sakit dan nyeri yang tiada tara saat cinta tiba-tiba berkhianat? Dan yang paling lucu dari itu semua, mengapa kita masih juga dapat menikmati setiap sakit yang ia berikan, mengapa kita masih dapat bahagia dengan segala kesengsaraan yang ia hadapkan, dan mengapa kita masih dapat tertawa diantara kepahitan yang ia suguhkan. Setidaknya hal itu terjadi terhadap saya sekarang ini. Bahkan otak dan logika saya yang saya andalkan, masih bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat dengan segala perasaan yang saya rasakan sekarang ini.

Saya menyebut hal itu tidak normal, namun semua itu berjalan selayaknya sesuatu yang normal. Saya disesatkan, namun juga diberi petunjuk. Saya hancurkan, namun juga dibangun. Saya dibuang, namun juga diperhatikan. Ternyata hanya perasaan yang tidak dapat dikendalikan oleh logika. Bagaimana hebatnya logika tersebut berjalan.

Kemudian ada lagi pertanyaan di kepala saya. Apa perbedaan antara SUKA dan CINTA? Saya bertanya kepada beberapa teman, tidak ada yang memberikan saya gambaran dan jawaban yang jelas. Semua berbelit dan abstrak bagai kedua kata tersebut di dalam kepala. Tidak ada kata-kata yang sanggup mendefinisikan arti suatu kata. Betapa congkaknya kata tersebut.

Namun yang saya yakin dan saya pahami, cinta itu adalah sesuatu yang penting. Bahkan ketika dihadapan pencipta kita, hanya cinta yang dapat menggambarkan apa yang kita maksud. Dan cinta yang utuh tanpa cacat adalah cinta Allah swt terhadap setiap ciptaan-Nya.

h1

Bersyukur Atas Kebodohan

October 29, 2010

Sebuah syukur dulu saya berikan kepada Allah swt karena telah memberikan apa yang telash saya terima selama ini. Saya sangat beruntung karena masih dapat menikmati dan menggunakan seluruh nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada saya selama ini. Sungguh tak ada sedikit pun sesuatu yang lolos dari perhatiannya. Bahkan saya masih dapat menulis di blog ini sekarang termasuk syukur yang luar biasa yang telah Ia berikan kepada saya.

Sebenarnya saya menulis ini dalam keadaan mood yang turun, namun semoga saya masih ingat untuk mengucap dan merasa syukur kepada Allah telah memberikan semua ini. Bahkan syukur yang saya rasakan ini, saya masih merasa bersyukur untuk dapat memanjatkannya.  Read the rest of this entry »

h1

Saat Tertawa, Tawa Sesaat

October 26, 2010

Saat senang, tertawa…

Saat merasa lucu, tertawa…

Saat hati tersenyum, tertawa…

Saat bahagia, tertawa…

Saat menderita, tertawa…

Saat bersedih, tertawa…

Saat hati teriris, tertawa…

Saat berduka, tertawa…

Saat ditertawakan, tertawa…

Saat dihina, tertawa…

Saat dicaci, tertawa…

Saat dimaki, tertawa…

Saat dipuji, tertawa…

Saat dijunjung, tertawa…

Saat disanjung, tertawa…

Saat dihargai, tertawa…

Saat melihat dunia, tertawa…

Saat dilihat dunia, tertawa…

Saat menginjak dunia, tertawa…

Saat diinjak dunia, tertawa…

Saat tawa akhirnya direnggut,tertawa…

Karna kita tak tahu kapan tawa itu berhenti tertawa…

Saat tertawa tak lagi bisa, tertawa…

Karna tawa hal yang paling sederhana…

Sesaat tertawa, walau tawa sesaat…

h1

Ideologi, Kemuliaan Dibalik Keburukan

October 2, 2010

Saat itu sempat saya melihat perjalanan hidup atau biografi dari tokoh Uni Soviet yang ternama di salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Tokoh tersebut adalah Mikhail Gorbachev. Dari yang diceritakan tentang riwayat kehidupannya tersebut, saya banyak belajar, bagaimana dari hanya keluarga petani bisa merubah dunia dengan semangat dan perjuangannya. Bagaimana otak dia bekerja luar biasa hebat untuk memikirkan dan memperjuangkan masa depan. Sebuah kisah inspiratif dari orang hebat, namun jarang kita sebut. Bahkan namanya masih kalah dengan bintang-bintang hiburan yang muncul dilayar kaca.
Namun bukan itu yang saya ingin angkat kali ini dalam tulisan ini. Yang saya ingin angkat adalah sistem komunis yang dianut oleh Mikhail Gorbachev tersebut. Namun sebelumnya, saya ingin menanyakan, siapa diantara pembaca yang sudah menjustifikasi bahwa komunis buruk? Siapa diantara pembaca yang mendapatkan didikan pada pendidikan tingkat dasar atau lanjutan bahwa komunis merupakan kejahatan? Disini saya berbicara secara netral, saya bukan anggota komunis jadi saya tidak ada ikatan untuk meninggikan komunis. Saya juga tidak ingin menjelek-jelekan komunis, karena baik buruk sesuatu hanya masalah sudut pandang pada akhirnya. Kembali kepada pembicaraan, saya menyimak dengan seksama saat biografi tersebut ditayangkan. Saya mendapatkan sesuatu yang menarik dari kisah Mikhail Gorbachev kecil. Karena asas dari komunis ialah kepemilikan bersama dan gotong royong, terlepas dari asas komunis yang tidak percaya adanya tuhan karena menurut mereka tuhan hanya akan membatasi mimpi mereka, semua yang dimiliki seseorang dan dapat dibagikan kepada sesama mereka, mereka akan membagikannya, tidak ada egoisme, tidak ada kata pelit. Sangat menarik menerut saya. Gorbachev kecil adalah merupakan cucu dari pejabat pembagi makanan di desa setempat dimana Gorbachev kecil dibesarkan. Dia sering membawa makanan saat kesekolah, roti, mentega, atau apapun itu. Namun dia membawa makanan itu bukan untuk dirinya sendiri, dia membagikannya kepada teman-temannya. Sungguh mulia, mengingat dia hanya putra dari seorang teknisi pertanian yang hidup sangat sederhana.Coba pikirkan jika dia mengambil semua itu untuk dirinya sendiri, dia tidak akan kekurangan. Sungguh ironis bukan jika kita memikirkan lebih lanjut dan membandingkan dengan kehidupan kita saat ini. Saat moderen ini, dimana demokratis digembar-gemborkan, dimana ideologi Pancasila digunakan di Indonesia, jarang kita lihat adanya kebersamaan dan kepedulian seperti itu. Ideologi yang kita anggap sempurna, ideologi yang katanya cocok dengan kepribadian Indonesia yang ketimuran, malah tidak ada budaya saling berbagi. Atau hanya karena masyarakat modern sekarang ini yang melupakan betapa indahnya berbagi? Yang telah mentidakacuhkan kenikmatan berbagi karena telah terkotori budaya materialisme dan individualisme? Sungguh tidak dapat dimengerti, sesuatu yang ditanamkan kepada kita bahwa itu merupakan keburukan menyimpan kemuliaan begitu rupa. Namun sayang, mata kita sebenarnya seakan tertutup.
Ada lagi kisah dari Gorbachev yang membuat saya berpikir jauh tentang kebaikan sistem Uni Soviet. Seperti kita tahu, Gorbachev merupakan anak dari keluarga yang sangat sederhana. Dia saat remaja, setelah Perang Dunia berakhir, ia merantau ke Moskow dengan koper yang ditata oleh ibunya tercinta untuk melanjutkan pendidikan di Universitas terkemuka di Moskow. Disana ia masuk kedalam fakultas favorit, fakultas hukum. Sangat berarti baginya yang hanya sekedar anak desa, dapat melanjutkan perjalanan meraih mimpinya di Universitas terkemuka dengan fakultas favorit. Coba kita bayangkan dan bandingkan, Gorbachev yang hanya seorang anak teknisi pertanian, dengan segala keterbatasan, dapat melakukan itu semua. Sungguh sistem yang luar biasa dibandingkan keironisan saat ini. Di Indonesia ada kabar terdengar bahwa anak berprestasi, bahkan mempunyai nilai-nilai yang bagus, terpaksa tidak dapat melanjutkan mimpinya karena terbentur biaya. Anak berprestasi dengan latar belakang keluarga menengah kebawah yang untuk makan saja sulit, dipersulitkan lagi untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar mimpinya. Seolah-olah dengan tega, api semangat dan cahaya mimpinya dipaksa untuk redup atau bahkan padam. Bagaimana bangsa ini dapat maju jika untuk sekedar melanjutkan pendidikan saja sulit. Padahal siapa tahu dimasa depan ia akan mengangkat derajat bangsa ini dimata dunia. Menjadikan sang macan Asia kembali mengaum atas prestasi yang ia berikan. Sistem yang ada sekarang ini, di Pancasila pada sila kelima disebutkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ditulis seakan-akan dibisukan. Dimana realisasi ideologi yang kita anut? Seakan, ideologi hanya merupakan idealisme yang luntur oleh waktu. Seakan keadilan yang kita anut hanya berlaku untuk kaum congkak yang duduk menindih kita. Seakan semua yang mereka lakukan adalah halal walaupun mereka menginjak dan membuat penderitaan orang-orang menderita bertambah. Dan yang tidak jauh dari itu semua, apakah bangku kuliah dimana idealiame kita dibangun, dimana kita ditunggu oleh jutaan orang di Indonesia merubah negri ini, dimana kita masih dapat merencanakan, dimana kita masih dapat berpikir kritis hanya untuk kalangan berduit saja? Apa yang akan dilakukan kaum merana yang bahkan secara statistik sangat besar? Apakah mereka hanya akan dibiarkan menunggu dengan tangan dibawah dagu kapan nasib mereka akan berubah? Akan disalurkan kemana potensi mereka yang luar biasa itu? Ayo kita mengaca, mengaca pada realita, sesuatu yang ditanamkan buruk untuk kita, dicap kejahatan, malah memberikan kemuliaan dan keadilan. Kita lihat bagaimana sistem yang kita anggap ideal malah memberi kesempatan pada siapapun untuk hidup merubah nasib. Tidak hanya nasib orang-orang berduit dan berkuasa, namun juga kaum sederhana.
Ayo lah kawan semua, sungguh mata kita harusnya terbuka. Sungguh pikiran kita harusnya tergelitik. Sungguh jiwa kita harusnya meratap. Begitu banyak kebaikan dari sesuatu yang kita anggap keburukan. Tidak usahlah kita membahas dan melihat terlalu dalam keburukan orang lain, lihatlah bahwa kita juga masih mempunyai begitu keburukan.
Semoga apa yang saya tulis dapat bermanfaat. Karena pandangan saya hanya terbatas.
“Man beginning to explore the galaxy. But how much remains undown on earth?” -Mikhail Gorbachev

h1

Keluh, Harapan, dan Syukur

September 22, 2010

Mungkin ini yang dirasakan oleh saudara-saudara kita. Pernah terbayang kah dipikiran kita selama ini, bagaimana jika saatnya nanti, roda kehidupan kita berputar dan kita mau tidak mau harus berada di sisi yang terbawah. Dimana kita merasa diri kita terinjak-injak oleh harga diri dan ego kita sendiri. Bahkan saat senyum kita hanya simbol yang tersungging diwajah kita dengan segala kemirisan dan kepedihan yang kita rasakan. Saat setiap tetes peluh yang kita keluarkan hanya sebagai wujud setiap peratapan kita. Dengan setiap pikiran dalam otak kita berisi ketidak percayaan atau ratapan. Semua tegangan otot kita hanya gerak tidak berdaya. Itu adalah saat waktu menang, dan kita pecundang.

Saudara kita juga ada yang masih tidak seberuntung kita. Saudara kita juga masih dapat tersenyum ceria dengan segala keterbatasan. Dan mereka telah menjalani itu lebih lama dari yang bisa kita bayangkan. Apakah keluhan mereka lebih keras dari keluhan kita? Tidak. Apakah sang waktu juga yang berkuasa dan membuat mereka terbiasa? Tidak. Tapi, hanya dengan kepercayaan dalam mimpi mereka lah yang membuat mereka masih bersyukur. Hanya dengan pasrah dan ingat kuasa Tuhan lah mereka masih bisa hidup dengan kesederhanaan. Hanya dengan kerja keras lah kebahagiaan terlunaskan. Read the rest of this entry »

h1

Santai Bebas Yang Tertuntut

September 9, 2010

Saya ingat tentang kejadian yang sempat membuat saya semangat buat berpikir dan menyampaikan isi pikiran. Yah, isi pikiran teman saya berbeda dengan isi pikiran saya, jadi niatnya sih saya ingin tukar pikiran biar bisa membuka sudut pandang saya. Tapi mungkin gara-gara saya orangnya cukup ngotot, jadi teman tidak menanggapi dengan sepenuh hati. Memang dasar cewek mungkin ya, kalau tidak cocok dengan perasaan dia, jadi tidak semangat menanggapi.

Namun, itu cerita dibalik permasalahan ini yang tidak usah kita bahas lebih lanjut. Yang jelas saya jadi dapat ide untuk menulis lagi di Blog ini, terima kasih banyak untuk dia.

Tulisan ini mengenai kehidupan yang santai. Teman saya itu mengatakan kalau buat apa hidup terburu-buru selama masih bisa santai. Saya dengan separo ceplas-ceplos membenarkan, namun juga anehnya mengajak diskusi, memang dasar saya, cowok melankolis dengan tingkat berpikir menggunakan logika dan mengesampingkan perasaan. Jawaban saya waktu itu, “Memang benar, tapi selama kita tidak dituntut… Tapi kapan sih kita tidak dituntut?” Read the rest of this entry »

h1

Kembali Dalam Pelukan

September 4, 2010

Tadi pagi, sewaktu menjemur cucian, saya berhenti sebentar dan mengamati cucian saya sambil merenggangkn otot-otot yang menegang sewaktu mencuci. Disana, pikiran-pikiran datang bersliweran dikepala saya. Akhirnya saya mendapatkan pikiran yang bisa saya angkat menjadi tema tulisan saya ini. Saat itu saya melihat bulir-bulir air berkejaran menelusuri ujung bawah selimut yang baru saja saya jemur.

Saya mengambil benang merah dari sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah tersebut. Saya berpikir, kenapa air mempunyai harmoni dan keindahan luar biasa saat berebut menyentuh bumi? Entah apa karena pikiran saya sedang terfokus pada satu hal yaitu mudik karena saya adalah anak rantau yang jauh dari orang  tua, saya hanya dapat melihat dengan sudut pandang “menuju pelukan ibu”. Read the rest of this entry »

h1

Kambing Hitam Pemborosan Sewaktu Hemat

August 30, 2010

Ada beberapa kasus musiman yang kadang janggal yang kita alami selama hidup ini. Kasus musiman yang mungkin sudah dianggap biasa saja karena itu termasuk dalam budaya kita. Namun apakah budaya musiman itu adalah sesuatu yang baik? Apakah budaya yang kita kenal selama ini semua mengandung nilai-nilai yang mendidik? Atau malah akan memutar balikkan pikiran kita atau bahkan akan membuat kerja otak kita menjadi tertuju pada satu hal dan tidak menganggap adanya sudut pandang lain, bahkan sudut pandang keilmiahan?

Kasus ini yang di dalam masyarakat Jawa menjadi budaya yang sangat sakral, bukan bermaksud untuk menjelekkan budaya ini, namun ingin mengetahui lebih jauh karena pengetahuan saya mengenai budaya ini juga seperti masyarakat kebanyakan. Budaya yang saya maksud adalah budaya nglarung sesaji. Nglarung yang saya maksud ialah pada saat tanggal-tanggal tertentu pada bulan-bulan jawa yang dianggap sakral maka akan diadakan upacara yang isinya penyembelihan kerbau yang kemudian kepala kerbau tersebut dihanyutkan di laut selatan beserta sesaji lain seperti makanan dan lain-lain. Pengetahuan saya sepanjang ini adalah hal tersebut dianggap syirik dalam Islam karena mempercayai pelindung selain pelindung mutlak kita, Allah swt. Read the rest of this entry »

h1

Alam Pun Berbicara

August 25, 2010

Mau cerita tentang kekuatan alam. Hebat sekali Allah swt yang telah merancang sedemikian rupa alam ini sehingga memiliki kekuatan yang menabjubkan yang bahkan dengan sains modern yang paling hebat pun tidak dapat mengalahkan kekuatan alam. Allah adalah designer dan arsitek yang luar biasa, yang dengan kekuasaannya menyisipkan sedikit sekali kekuatannya pada alam yang bahkan masih kita anggap sangat kuat.

Kenapa saya mendapat ide ini? Saya mendapatkan ide menulis ini setelah melihat film kolosal yang berjudul Red Cliff dan Muhammad : The Last Prophet. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.