Buka arsip lama, nemu tulisan yang dulu. Sudah lama juga tidak posting, daripada tidak posting sama sekali, jadi lebih baik posting ini.
Apa yang ada dipikiran Anda jika ada kata Ta’aruf melalui benak Anda? Apakah ta’aruf merupakan proses perkenalan dengan pasangan sehingga lebih siap menerima dia apa adanya? Atau ta’aruf merupakan pelengkap ibadah? Atau hanya sekedar kedok maupun alasan untuk berzina?
Kata teman saya yang sering mengkritisi tentang penggunaan kata yang tidak seharusnya pada tempatnya, dia mengatakan bahwa kata ta’aruf sekarang hanya menjadi kedok untuk berzina. Secara logis pikiran saya, saya sependapat. Saya menyetujui dengan alasan yang dia sampaikan menggunakan pikiran dalam benak dan nurani saya.
Sebagai contoh, ada sinetron yang katanya berjudul Ta’aruf, namun isi yang ada tidak mencontohkan hal yang baik. Saya memang tidak melihat secara langsung, karena alibi ini dari teman saya itu. Jika dari saya, kenapa ta’aruf bisa menjadi salah kaprah dalam praktiknya ialah adanya unsur yang tidak pas. Ikatan dalam ta’aruf bukan ikatan resmi dan menghalalkan seperti ikatan akad nikah. Namun dalam praktik proses ta’aruf banyak diantara yang melakukan kontak fisik, misalnya berpegangan tangan yang sebenarnya belum menjadi muhrimnya. Itu merupakan contoh kecil.
Jika Anda keberatan dengan pendapat saya, saya bisa mengerti karena dunia selamanya diisi oleh perbedaan pendapat. Anda mungkin lebih condong memilih ta’aruf sebagai perkenalan, namun sejatinya perkenalan tersebut untuk jenjang akad nikah, jenjang lebih kuat, lebih sakral, lebih berguna, bukan untuk sekedar bermain-main dengan perkenalan itu sendiri. Dan pertanyaan saya berikan, “Siapkah Anda menikah, menuju jenjang kesakralan dalam waktu dekat karena Anda telah berta’aruf?” dan “Siapkah Anda, jika akhwat menerima lamaran pasangan Anda dalam waktu dekat, dan jika ikhwan melamar pasangan Anda dan segera menghalalkan hubungan tersebut?”. Jika pertanyaan tersebut Anda jawab dengan jawaban “IYA” maka bolehlah Anda menyebut hubungan Anda sebagai ta’aruf. Jika Anda menjawab “TIDAK atau BELUM” maka dengan tegas dapat dikatakan Anda mempermainkan kata ta’aruf sebagai kedok Anda dalam berzina.
Mungkin kata yang saya gunakan terlalu tajam, memang saya belum paham secara mendalam tentang detail-detail tertentu dalam keunikan agama saya, namun agama saya merupakan agama yang dapat dinalar, dapat dipikirkan dengan logis dan proses yang runtut. Tidak berisi keajaiban-keajaiban kosong yang entah darimana asalnya. Maaf jika saya menyinggung perasaan Anda saat membaca tulisan ini. Bukan bermaksud menyudutkan Anda, hanya mempertanyakan, mungkin dengan alasan yang akan Anda sampaikan, saya dapat melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Karena jujur, sebagai manusia, saya memiliki sudut pandang yang masih sempit. Saya ingin Anda mengisi dan melebarkan sudut pandang saya dengan alasan yang Anda sampaikan.
Kembali pada pembahasan, lebih baik secara jujur mengatakan hubungan tersebut merupakan pacaran atau yang lain, bukan dengan ta’aruf jika ternyata Anda belum siap melakukan hubungan lebih lanjut. Jujur toh tidak ada ruginya. Daripada berujung dengan pertanyaan yang akan membuat Anda merasa lebih tidak siap. Mengatasnamakan kebersihan kata ta’aruf demi kepentingan yang tidak logis akan berakibat buruk. Atau hanya untuk mengutamakan nafsu, na’udzubillah…
Cukup sekian mungkin tulisan ini terketik pada tuts keyboard saya. Jika ada pikiran lebih lanjut saya akan menambahkannya nanti. Terima kasih telah bersedia membaca tulisan ini. Mohon maaf jika ada salah, karena kesalahan murni dating dari diri saya, tidak saya sengaja buat, hanya kodrat manusia yang selalu salah, dan Allah swt lah yang maha benar dan maha mengampuni.
